Inspirasa.co – Kunjungan kerja Wali Kota Neni Moerniaeni ke Kelurahan Tanjung Laut Indah pada Senin (4/5/2026) menjadi momentum untuk mengevaluasi kinerja birokrasi tingkat bawah. Neni secara tegas meminta aparatur kelurahan dan Ketua RT tidak lagi pasif, melainkan harus memperkuat pendataan terhadap warga rentan yang selama ini mungkin luput dari pengawasan.
Neni menekankan bahwa RT adalah ujung tombak yang paling memahami kondisi riil ekonomi warga. Ia mengkritik lambannya penanganan masalah sosial yang seringkali baru terdeteksi setelah viral atau memburuk.
“Data harus akurat dan diperbarui. Saya minta Ketua RT proaktif melaporkan warga yang kesulitan ekonomi agar intervensi pemerintah tidak salah sasaran dan lebih cepat dieksekusi,” tegasnya.
Meski penanganan stunting menjadi prioritas, realita di lapangan menunjukkan tantangan besar di wilayah pesisir. Pemerintah menargetkan intervensi sejak masa kehamilan, namun Neni mengakui bahwa APBD saja tidak cukup. Ia menyoroti pentingnya keterlibatan sektor swasta, seperti PT Pupuk Kalimantan Timur, dalam menambal celah pemenuhan gizi masyarakat melalui program CSR yang lebih terukur.
Masalah klasik Tanjung Laut Indah banjir rob kembali mencuat. Warga terus mengeluhkan genangan yang menghambat aktivitas ekonomi dan merusak hunian. Menanggapi hal ini, Pemerintah Kota menjanjikan percepatan pembangunan infrastruktur drainase dan tanggul, meski realisasinya masih akan terus dipantau oleh masyarakat yang sudah lama menanti solusi permanen.
Menutup kunjungannya, Wali Kota juga mengingatkan kerentanan wilayah pesisir terhadap gangguan Kamtibmas dan peredaran narkoba. Ia mendesak pengaktifan kembali patroli malam secara swadaya sebagai benteng pertahanan pertama di lingkungan terkecil. (Ima)

















