Inspirasa.co – Pemerintah Kota Bontang akhirnya mengakui bahwa ledakan penduduk bukan lagi musuh utama, melainkan kualitas manusia yang stagnan.
Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, secara eksplisit menggeser arah kemudi kebijakan dari pengendalian jumlah menuju penyelamatan masa depan.
Agus Haris menegaskan bahwa pemerintah tidak lagi alergi terhadap angka kelahiran, selama setiap nyawa yang lahir di “Kota Taman” dijamin kualitas hidupnya. Kebijakan konvensional yang hanya fokus pada pembatasan kelahiran dinilai sudah tidak relevan dengan tantangan daya saing global.
“Dulu kita sibuk membatasi kelahiran. Sekarang, tantangannya adalah memastikan anak yang lahir tidak terjebak dalam lingkaran kemiskinan dan kebodohan. Kita bicara soal kualitas pribadi yang kompetitif,” jelas Agus Haris.
Transformasi kebijakan ini tidak akan berjalan tanpa audit data yang jujur. Pemerintah berencana melakukan pembedahan data hingga ke akar rumput di tiap kelurahan. Fokusnya bukan lagi sekadar angka statistik, melainkan potret rill kegagalan sosial.
Seperti pengangguran dan kemiskinan; mengidentifikasi kantong-kantong ekonomi yang lumpuh, melacak lubang dalam sistem pendidikan lokal, memutus rantai degradasi kualitas keluarga yang seringkali menjadi beban negara.
Agus Haris menekankan bahwa setiap kelurahan memiliki “penyakit” yang berbeda, sehingga obat yang diberikan pun tidak bisa disamaratakan. “Intervensi harus presisi. Jangan sampai kita mengobati wilayah yang salah dengan cara yang salah,” tambahnya.
Menariknya, Pemkot Bontang menyadari bahwa pendekatan birokrasi saja tidak cukup untuk melawan budaya pernikahan dini. Pelibatan tokoh agama dan mubaligh menjadi langkah strategis untuk menyusup ke ruang-ruang privat masyarakat melalui pendekatan nilai dan moralitas keluarga. (Ima)
















