Samarinda – Kesadaran politik di kalangan generasi muda dinilai perlu diperkuat sejak usia sekolah. DPRD Kota Samarinda mendorong pendidikan politik dikenalkan lebih awal agar pelajar memahami proses demokrasi secara benar dan tidak tumbuh dengan pandangan negatif terhadap dunia politik.
Ketua Komisi I DPRD Samarinda, Samri Shaputra, menilai masih banyak anak muda yang menganggap politik sebagai sesuatu yang identik dengan konflik, perebutan kekuasaan, atau kepentingan kelompok tertentu. Persepsi tersebut, menurutnya, muncul karena minimnya pemahaman mengenai fungsi politik dalam kehidupan sehari-hari.
“Sering kali politik dianggap sesuatu yang buruk, padahal keputusan yang mengatur kehidupan masyarakat semuanya lahir dari proses itu,” ujarnya, Selasa (2/6/26).
Samri menjelaskan berbagai kebijakan yang berkaitan langsung dengan masyarakat, mulai dari pendidikan, pembangunan infrastruktur, kesehatan hingga pelayanan publik, merupakan hasil dari proses politik dan pengambilan keputusan yang berlangsung dalam sistem demokrasi.
Karena itu, ia menilai generasi muda perlu mendapatkan pemahaman yang memadai mengenai demokrasi, hak dan kewajiban warga negara, serta cara berpartisipasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menurutnya, tantangan saat ini semakin besar karena anak muda hidup di tengah derasnya arus informasi digital. Tanpa pemahaman yang cukup, mereka berpotensi mudah terpengaruh informasi yang menyesatkan, termasuk hoaks yang berkaitan dengan isu politik dan pemerintahan.
“Minimal anak-anak paham bagaimana sistem demokrasi berjalan dan bagaimana cara menyikapi informasi secara bijak,” katanya.
Untuk memperkuat literasi demokrasi tersebut, DPRD Samarinda mengusulkan agar materi pendidikan politik mulai diperkenalkan pada jenjang SMP hingga SMA melalui pendekatan yang sesuai dengan usia pelajar.
Samri menegaskan pendidikan politik bukan bertujuan mengarahkan pilihan politik tertentu, melainkan membangun pemahaman tentang proses demokrasi, partisipasi warga negara, serta pentingnya keterlibatan masyarakat dalam mengawal kebijakan publik.
Ia menilai metode pembelajaran yang ringan dan kontekstual akan lebih efektif diterapkan dibandingkan pendekatan yang terlalu teoritis. Dengan cara itu, pelajar dapat memahami bahwa politik merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari yang memiliki pengaruh terhadap masa depan masyarakat.
“Kalau sejak muda sudah memahami politik dengan benar, mereka akan lebih rasional dalam melihat persoalan publik,” tegasnya.
Menurut Samri, penguatan pendidikan politik sejak bangku sekolah menjadi langkah penting untuk membangun budaya demokrasi yang sehat sekaligus mendorong lahirnya generasi muda yang kritis, aktif, dan bertanggung jawab dalam menyikapi berbagai persoalan daerah maupun nasional.
“Pemahaman politik sejak usia sekolah dapat melahirkan generasi yang aktif berpartisipasi dalam kehidupan demokrasi serta mampu menyikapi berbagai isu publik secara kritis dan bertanggung jawab,” pungkasnya.(adv)

















