SAMARINDA – Kebakaran lahan kembali menjadi perhatian di Samarinda saat kondisi cuaca masih kering. Sejumlah kejadian pembakaran dinilai berisiko memicu api meluas, terlebih ketika lahan berada dalam kondisi mudah terbakar. Proses pemadaman yang berlangsung cukup lama juga menjadi sorotan, disertai dampak asap yang mengganggu kualitas udara.
Anggota Komisi III DPRD Samarinda, Maswedi, menyayangkan kebakaran lahan yang kembali terjadi. Ia mencontohkan kejadian di kawasan Betapus yang membutuhkan penanganan cukup lama oleh relawan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda.
“Sangat disayangkan adanya kebakaran di Betapus itu karena dampaknya cukup besar sekali, dan memang apinya cukup lama baru bisa dipadamkan oleh teman-teman dari relawan dan juga dari BPBD,” ujar Maswedi, Senin (12/10/2026).
Menurutnya, kejadian serupa yang berulang perlu menjadi perhatian, terutama aktivitas pembakaran yang dilakukan saat kondisi lahan kering. Jika tidak diantisipasi, api berpotensi menyebar dan menimbulkan dampak lebih luas.
“Kami melihat ini kan sudah berulang. Dan tentunya kami sayangkan buat masyarakat yang melakukan aktivitas pembakaran sehingga menimbulkan dampak kebakaran yang cukup luas,” katanya.
Selain risiko meluasnya api, asap kebakaran turut mengganggu kualitas udara dan berdampak pada masyarakat. Maswedi menyebut sejumlah warga sebelumnya mengeluhkan gangguan pernapasan akibat asap dari pembakaran tersebut.
“Ini kan cukup mengganggu dari sisi udaranya. Karena kemarin sampai ada beberapa masyarakat kita yang agak sesak napas akibat pembakaran tersebut,” ungkapnya.
Ia berharap hujan segera turun agar kondisi kering tidak berlangsung lebih lama. Selama kemarau masih terjadi, masyarakat juga diminta menghindari aktivitas pembakaran yang berpotensi memicu kebakaran lahan. (adv)

















