Inspirasa.co – Kunjungan kerja Wali Kota Neni Moerniaeni ke Kelurahan Tanjung Laut Indah pada Senin (4/5/2026) mengungkap sejumlah persoalan krusial yang masih membayangi wilayah pesisir tersebut, mulai dari tingginya angka stunting hingga ancaman banjir rob yang menahun.
Salah satu poin paling mencolok adalah temuan 162 kasus stunting di Kelurahan Tanjung Laut Indah. Angka ini dipandang cukup mengkhawatirkan untuk skala satu kelurahan.
Wali Kota menginstruksikan pemantauan ketat by name by address. Namun, yang menjadi tantangan ke depan bukan sekadar pendataan, melainkan efektivitas intervensi gizi. Publik kini menunggu apakah kolaborasi dengan PT Pupuk Kaltim mampu menurunkan angka tersebut secara signifikan dalam waktu dekat atau hanya menjadi program seremoni rutin.
Akurasi Data Kemiskinan di Tingkat RT
Dalam dialognya, Neni menyoroti celah pada data warga prasejahtera. Instruksi agar Ketua RT lebih proaktif mendata warga yang kehilangan pekerjaan atau masih menyewa rumah menunjukkan adanya indikasi data yang belum sinkron.
Akurasi penyaluran BLT Rp300 ribu/bulan dan kepesertaan BPJS sangat bergantung pada kejujuran dan ketelitian pendataan di tingkat bawah. Tanpa sistem verifikasi yang transparan, bantuan ini berisiko salah sasaran atau terhambat birokrasi.
Di sektor infrastruktur, rencana pembangunan polder oleh Dinas PUPR untuk mengatasi banjir rob di RT 20 dan RT 32 kembali ditegaskan. Mengingat masalah rob adalah persoalan klasik di wilayah tersebut, realisasi fisik polder ini menjadi pertaruhan kredibilitas pemerintah kota dalam menjawab keluhan menahun warga.
Selain bantuan materi, Wali Kota menekankan penguatan patroli malam untuk menekan angka peredaran narkoba dan gangguan Kamtibmas. Hal ini mengisyaratkan bahwa Tanjung Laut Indah masih memiliki kerentanan sosial yang tinggi, yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan bantuan tunai, melainkan butuh kehadiran aparat keamanan dan partisipasi aktif warga secara berkelanjutan. (Ima)

















