Inspirasa.co – Pemerintah Kota Bontang memperluas strategi intervensi stunting dengan membidik remaja putri sebagai hulu pencegahan. Langkah ini diambil untuk memastikan kesehatan calon ibu optimal sebelum memasuki masa kehamilan.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menegaskan bahwa perang melawan stunting tidak bisa hanya mengandalkan penanganan pasca-kelahiran. Pencegahan konkret wajib dimulai sejak usia remaja.
Pemkot Bontang membidik target agresif: menekan prevalensi stunting hingga menyentuh angka satu digit—di kisaran 9 persen—pada tahun 2026.
“Sekarang angka stunting kita masih dua digit. Ini harus terus ditekan hingga di bawah 10 persen,” tegas Neni, Selasa (9/6/2026).
Salah satu pemicu utama stunting yang kini diwaspadai adalah tingginya risiko anemia pada remaja putri. Anemia kronis berpotensi besar memicu masalah kesehatan saat hamil, termasuk melahirkan bayi dengan berat badan rendah (BBLR) yang menjadi rantai awal stunting.
Merespons hal itu, Dinas Kesehatan diinstruksikan memperketat deteksi dini melalui skrining kesehatan berkala, sekaligus memastikan distribusi Tablet Tambah Darah (TTD) tepat sasaran.
Program pemeriksaan kesehatan gratis di berbagai fasilitas layanan kesehatan (fasyankes) juga dioptimalkan guna membangun basis data (database) yang valid. Melalui pemetaan digital yang akurat, pemantauan dan pendampingan berkelanjutan dapat dilakukan sebelum para remaja memasuki usia pernikahan.
Neni optimistis pendekatan dari hulu ini akan menjadi kunci utama dalam memutus mata rantai stunting secara permanen demi menjaga kualitas generasi masa depan Bontang.
“Remaja putri harus dipetakan dan dipantau kesehatannya secara rutin agar pencegahan stunting berjalan optimal sejak awal,” pungkasnya.

















