Inspirasa.co – Pemerintah Kota Bontang menegaskan komitmennya dalam memperkuat penanganan persoalan sosial melalui kolaborasi lintas sektor. Hal ini disampaikan oleh Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, dalam kunjungan kerjanya ke Kelurahan Tanjung Laut pada Senin (4/5/2026).
Didampingi sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Wali Kota membahas sinkronisasi program sosial di tingkat kelurahan. Salah satu fokus utama dalam pertemuan tersebut adalah maraknya kasus penyalahgunaan zat adiktif pada anak di beberapa wilayah.
Berdasarkan hasil koordinasi dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Bontang, Satpol PP, dan pihak kelurahan, telah dipetakan tiga titik lokasi yang kini masuk dalam pengawasan khusus karena dinilai rawan penyalahgunaan zat.
Neni menekankan bahwa penanganan isu ini tidak dapat dilakukan secara parsial. Ia menginstruksikan agar program Intervensi Berbasis Masyarakat (IBM) diaktifkan kembali di seluruh kelurahan guna mengoptimalkan upaya pencegahan dan rehabilitasi.
“Penanganan anak-anak yang terpapar harus melibatkan DSPM, Dinas Kesehatan, hingga PPA-TP2A secara terpadu. Mereka akan diarahkan ke Rumah Singgah untuk mendapatkan rehabilitasi serta pendampingan yang lebih terstruktur,” tegas Neni.
Selain langkah rehabilitatif, Pemkot Bontang juga memperkuat aspek pencegahan melalui pembenahan infrastruktur, pemasangan CCTV dan perbaikan lampu penerangan di kawasan rawan.
Instruksi kepada Satpol PP dan Dinas Kesehatan untuk mengawasi penjualan obat batuk di warung-warung kecil yang berisiko disalahgunakan.
Integrasi data antarinstansi dan penerapan sistem monitoring berbasis spasial oleh Diskominfo untuk menciptakan standar operasional prosedur (SOP) yang lebih efektif.
Dalam kesempatan yang sama, Wali Kota juga menyoroti tantangan kesehatan di Kelurahan Tanjung Laut. Tercatat angka stunting di wilayah tersebut mencapai 17 persen atau menyasar sekitar 151 anak.
Menanggapi data tersebut, Neni memastikan pemerintah daerah akan mempercepat langkah intervensi melalui, pemberian asupan gizi tambahan, pengawasan kesehatan rutin melalui Puskesmas dan Posyandu, pendampingan keluarga secara berkelanjutan untuk memastikan pola asuh yang tepat.
“Pengawasan harus diperkuat dari hulu ke hilir. Kita ingin akses terhadap zat berbahaya diputus, sementara kualitas kesehatan anak-anak kita terus ditingkatkan,” pungkasnya.
















