Inspirasa.co – Komisi C DPRD Bontang mendorong pemerintah kota mulai mengubah paradigma pengelolaan sampah. Jika selama ini sampah hanya dipandang sebagai limbah yang harus dibuang ke tempat pemrosesan akhir (TPA), ke depan sampah dinilai harus menjadi sumber ekonomi baru.
Dorongan tersebut disampaikan Anggota Komisi C DPRD Bontang, Bonnie Sukardi, setelah mengikuti pertemuan Asosiasi Dewan Kota Seluruh Indonesia yang membahas berbagai inovasi pengelolaan sampah di sejumlah daerah.
Dalam forum itu, Kabupaten Kebumen menjadi salah satu daerah yang dinilai berhasil menekan timbulan sampah melalui penerapan teknologi dan inovasi pengolahan.
Bonnie mengungkapkan, Kebumen mampu mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA hingga sekitar 10 persen. Keberhasilan itu tidak hanya berasal dari proses daur ulang, tetapi juga melalui pemanfaatan sampah menjadi bahan yang memiliki nilai ekonomi.
“Salah satu yang menarik adalah pembangunan fasilitas RDM. Sampah tidak lagi hanya dibuang, tetapi dimanfaatkan menjadi produk yang memiliki nilai,” kata Bonnie, Senin (22/6).
Menurut Bonnie, banyak daerah kini mulai meninggalkan pola pengelolaan konvensional yang hanya mengandalkan sistem sanitary landfill. Sebagai gantinya, sampah diolah menjadi bahan bakar alternatif maupun material yang dapat dimanfaatkan oleh industri.
Bahkan, kata dia, beberapa pemerintah daerah telah menjalin kerja sama dengan perusahaan swasta untuk menyerap hasil pengolahan sampah tersebut.
“Sudah ada kontraknya dengan perusahaan. Artinya, sampah bukan lagi menjadi beban, tetapi memiliki nilai ekonomi,” ujarnya.
Ia menilai konsep tersebut layak dipelajari Bontang mengingat kapasitas TPA tidak akan mampu menampung sampah tanpa upaya pengurangan dari sumbernya.
Selain memperpanjang usia operasional TPA, pengolahan sampah modern juga berpotensi membuka sumber pendapatan baru bagi pemerintah daerah.
Bonnie berharap Dinas Lingkungan Hidup dapat segera mengkaji berbagai model pengolahan sampah yang telah berhasil diterapkan di sejumlah daerah.
Menurutnya, target awal tidak perlu terlalu besar. Pengurangan timbulan sampah sekitar 10 persen saja sudah akan memberikan dampak signifikan terhadap kapasitas TPA sekaligus mengurangi beban pengelolaan sampah kota.
“Kita jangan hanya melihat persoalan sampah sebagai biaya. Di banyak daerah, sampah justru sudah menjadi peluang ekonomi yang bisa dimanfaatkan pemerintah,” tegasnya.
Ia pun mendorong agar Bontang lebih aktif melakukan studi banding terhadap daerah-daerah yang telah berhasil mengembangkan teknologi pengolahan sampah sehingga inovasi serupa dapat diadopsi sesuai kebutuhan dan kemampuan daerah.

















