Inspirasa.co – Kontribusi besar Kota Bontang terhadap devisa negara lewat sektor pupuk dinilai belum sebanding dengan dukungan fiskal dari pemerintah pusat.
Di tengah lonjakan potensi ekspor urea yang diproyeksikan menembus 1,5 juta ton, Wali Kota Neni Moerniaeni mendesak agar Transfer ke Daerah (TKD) untuk Kota Bontang tidak mengalami pemangkasan.
Neni menegaskan bahwa keberadaan objek vital nasional seperti PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) di Bontang bukan hanya penggerak ekonomi lokal, melainkan tulang punggung devisa negara.
“Kami berharap TKD Bontang tidak diturunkan karena kami menyumbang devisa yang luar biasa untuk negara. Sampai sekarang Dana Bagi Hasil (DBH) kita juga belum jelas,” jelas Neni.
Desakan fiskal ini mencuat bersamaan dengan momentum bersejarah Pupuk Kaltim. Melalui skema Government to Government (G2G), perusahaan resmi melepas ekspor perdana pupuk urea sebanyak 47.250 metrik ton ke Australia menggunakan kapal MV Medi Luna dari Dermaga Bontang, Kamis (14/5/2026).
Langkah strategis ini menargetkan total pengiriman 250 ribu ton hingga Desember 2026, dengan potensi eskalasi hingga 500 ribu ton.
“Ekspor urea ini merupakan semangat Kota Bontang untuk bagaimana industri di Indonesia bisa terus maju,” ucapnya.
Pasar Global Melirik, Stok Domestik Diklaim Aman
Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman mengapresiasi keberhasilan penetapan pasar internasional ini di tengah ketidakpastian geopolitik global. Selain Australia, negara-negara besar seperti India, Filipina, Brasil, dan Bangladesh kini mengantre pasokan pupuk dari Indonesia.
Meski keran ekspor dibuka lebar, Amran menjamin nasib petani dalam negeri tetap menjadi prioritas utama.
“Kita mendahului petani Indonesia dulu. Kalau kebutuhan dalam negeri sudah cukup, baru kita ekspor,” tutur dia.
Prioritas utama, kebutuhan domestik wajib terpenuhi sebelum komoditas dilempar ke pasar internasional.
Rekor stok nasional, saat ini pasokan pupuk nasional berada di angka 5,3 juta ton, yang diklaim sebagai stok tertinggi sepanjang sejarah Indonesia merdeka.
Dengan posisi strategis Bontang yang menopang ketahanan pangan regional sekaligus menyuplai pasar global, kepastian dukungan fiskal dari pusat dinilai menjadi aspek krusial yang tidak boleh diabaikan. (PJB)















