Inspirasa.co – Wali Kota sekaligus Bunda PAUD Kota Bontang, Neni Moerniaeni, mendukung penuh kebijakan pemerintah pusat untuk membatasi akses digital bagi anak-anak.
Langkah tegas ini dinilai mendesak demi melindungi generasi muda dari gempuran konten negatif di dunia maya yang kian mengkhawatirkan.
Neni tidak menampik bahwa teknologi membawa banyak kemudahan. Namun, di sisi lain, perangkat digital menyimpan bom waktu yang siap merusak perkembangan mental dan psikologis anak jika dibiarkan tanpa kendali.
“Penggunaan handphone oleh anak-anak harus dibatasi dan diarahkan. Jangan sampai teknologi justru merusak perkembangan mereka,” tegas Neni, Selasa (2/6/2026).
Sikap keras Neni ini didasarkan pada data mencengangkan terkait tingginya angka anak yang terpapar pornografi melalui gawai. Dampak buruknya bukan lagi sekadar ancaman teoritis, melainkan sudah menjadi realitas pahit di Kota Bontang.
Kekhawatiran ini diperkuat oleh fakta lapangan yang diungkapkan salah satu dokter di Bontang, yang mengaku baru-baru ini menangani kasus persalinan dari seorang pasien yang statusnya masih di bawah umur dan berstatus pelajar.
Menurut Neni, selain pornografi, pembatasan akses digital juga krusial untuk membentengi anak dari paparan paham radikalisme serta disinformasi yang tidak sesuai dengan usia mereka.
Meski mendukung pembatasan digital, Neni menegaskan bahwa regulasi dan pemblokiran gawai tidak akan efektif tanpa adanya “benteng utama” dari lingkungan terdekat. Ia merumuskan tiga pilar penting:
Pendidikan Sejak Usia Dini (PAUD), anak harus dibekali pemahaman dasar mengenai kesehatan reproduksi, nilai moral, dan pengenalan dampak perilaku negatif.
Peran orang tua dan guru, orang tua wajib menjadi pengawas pertama sekaligus pembatas waktu (screen time) anak di rumah, sementara guru melanjutkan peran tersebut di sekolah.
Lingkungan sosial yang sehat, komunitas di sekitar anak harus mampu memberikan ruang tumbuh yang aman.
“Pendidikan sejak dini adalah fondasi utama. Kita harus memberikan pemahaman yang benar agar anak-anak mampu membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang berbahaya bagi masa depan mereka,” pungkasnya. (Ima)















