Samarinda — DPRD Kota Samarinda menilai polemik yang selalu mengiringi pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) tidak hanya berkaitan dengan mekanisme atau sistem penerimaan, tetapi juga dipengaruhi tingginya ekspektasi sebagian orang tua yang menginginkan anaknya bersekolah di sekolah tertentu.
Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Anhar, mengatakan pemerintah sebenarnya telah menyiapkan skema penerimaan melalui jalur domisili, afirmasi, dan prestasi untuk memberikan kesempatan yang adil bagi seluruh calon peserta didik.
Karena itu, masyarakat diharapkan dapat memahami dan menghormati mekanisme yang telah ditetapkan sembari menunggu penyempurnaan apabila masih ditemukan kekurangan.
Menurutnya, keluhan yang muncul setiap tahun umumnya bukan karena anak tidak memperoleh akses pendidikan, melainkan karena tidak diterima di sekolah yang menjadi pilihan utama orang tua.
“Terkadang orang tua wali murid maunya anaknya sekolah di situ. Kalau tidak di sekolah itu, tidak mau. Padahal kita juga harus menghargai sistem yang sudah dibuat,” kata Anhar, Kamis, (2/7/26).
Ia menegaskan pemerintah tetap berkewajiban memastikan seluruh anak memperoleh hak untuk bersekolah. Oleh sebab itu, fokus penyelesaian saat ini adalah mencari solusi terhadap persoalan daya tampung dan distribusi peserta didik, bukan pada anggapan bahwa ada anak yang tidak mendapatkan layanan pendidikan.
“Pemerintah tidak akan membiarkan anak-anak kita tidak sekolah. Yang terjadi sekarang ini kadang sekolah yang diinginkan tidak diterima. Nah, itu yang kita carikan solusinya,” ujarnya.
Anhar berharap masyarakat dapat memahami bahwa tujuan utama sistem SPMB adalah memberikan akses pendidikan secara merata, sehingga proses penerimaan tidak hanya berorientasi pada sekolah tertentu, tetapi juga menjamin setiap anak tetap memperoleh kesempatan belajar sesuai ketentuan yang berlaku.(adv)

















