Inspirasa.co – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Bontang resmi memiliki nakhoda baru. Pengusaha muda, Ali Ridho Lapatau, dipercaya memimpin partai berlambang mawar tersebut setelah dilantik langsung oleh Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep, dalam Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) PSI Kalimantan Timur di Samarinda, Sabtu (20/6).
Namun, posisi baru ini langsung dihadapkan pada ujian berat. Ridho, yang merupakan pendatang baru di jagat politik, langsung dibebani target ambisius oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PSI: merampungkan struktur partai hingga tingkat kelurahan (Dewan Pimpinan Ranting/DPRt) dalam waktu kurang dari 30 hari.
Kontemplasi Pengusaha yang Terjun ke Politik
Bagi Ridho, langkah kaki ke dunia politik praktis ini adalah fajar baru dalam kariernya. Mengaku sempat melakukan kontemplasi panjang sebelum melabuhkan pilihan ke PSI, ia mengklaim ada kesamaan visi, terutama terkait konsep politik kemanusiaan dan inklusivitas.
“Ini pertama kalinya saya terjun ke dunia politik. Berpolitik bukan semata-mata soal meraih kekuasaan atau memenangkan kursi. Lebih dari itu, politik harus menjadi sarana memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Ridho.
Meskipun narasi “politik tanpa syahwat kekuasaan” kerap dianggap klise dalam dinamika politik praktis, Ridho optimistis karakter modern PSI mampu membawa iklim demokrasi yang lebih bermartabat di Kota Taman.
Menolak Eksploitasi Suara Pemuda, Menghindari “Bencana Demografi”
Salah satu sorotan kritis yang dibawa Ridho adalah posisi tawar generasi muda dalam kontestasi politik lokal. Ia mengkritik fenomena di mana anak muda kerap kali hanya dijadikan objek eksploitasi suara menjelang pemilu tanpa dilibatkan dalam pengambilan kebijakan strategis.
Bontang, menurutnya, memiliki kelimpahan bonus demografi yang jika keliru dikelola justru akan menjadi bumerang.
“Kami tidak ingin anak muda hanya menjadi objek eksploitasi politik. Mereka harus diberikan ruang menentukan arah pembangunan. Jika tidak dikelola dengan baik, bonus demografi bisa berubah menjadi bencana demografi,” tegasnya.
Lewat jargon “The New PSI”, Ridho berjanji akan merombak pendekatan partai di Bontang menjadi lebih kolektif, terbuka, dan berbasis gagasan demi menarik minat anak muda yang selama ini apatis terhadap partai politik.
Tantangan Nyata: Kejar Tayang 30 Hari
Kendati mengusung narasi idealis, realitas politik organisasi langsung menanti di depan mata. Target kurang dari sebulan untuk membentuk DPRt di seluruh kelurahan se-Bontang menjadi pembuktian awal, apakah jaringan dan modal sosial yang dimiliki Ridho sebagai pengusaha mampu dikonversi menjadi mesin politik yang solid secara instan.
“Ini menjadi atensi langsung dari Ketua Umum PSI. Kami diberi target menuntaskan struktur sampai tingkat kelurahan dalam waktu kurang dari 30 hari,” jelas Ridho.
Langkah cepat ini menjadi krusial bagi PSI Bontang jika ingin diperhitungkan dalam lanskap politik lokal, mengingat persaingan antarpartai di Bontang semakin ketat. Ridho kini berkejaran dengan waktu untuk membuktikan bahwa jargon “The New PSI” bukan sekadar pemanis retorika di awal jabatan.

















