Baru 10 menit film dokumenter “Pesta Babi” diputar, hujan deras pun tumpah. Namun, mayoritas penonton memilih bergeming, bertahan di bawah hujan demi menuntaskan rasa penasaran mereka.
Acara nonton bareng (nobar) dan diskusi ini digagas oleh Forum Jurnalis Bontang (FJB) kolaborasi bersama Lentera Muda Nusantara, bertempat di Sekretariat FJB, Jalan Pencak Silat I, Kelurahan Api-api, Bontang Utara. Jumat (22/5/2026) malam
Penasaran yang Berujung Tamparan Realitas
Bagi sebagian besar penonton, film karya Dandhy Laksono dan WatchDoc ini menjadi pembuka mata atas realitas yang terjadi di tanah Papua.
Afmanda Viola Pelajar SMAN 2 Bontang ini mengatakan, rela basah kuyup karena penasaran dengan potongan klip yang viral di sekolahnya. Setelah menonton utuh, ia mengkritisi kebijakan lumbung pangan (food estate) pemerintah.
“Proyek penanaman padi sejak era Presiden Soeharto, SBY, hingga Jokowi tidak pernah berhasil di Papua. Tapi kenapa sekarang di masa Presiden Prabowo malah dilanjutkan tanpa ada evaluasi? Jadi polanya terulang terus gagal dan gagal,” kata Afmanda kritis.
Herma Susana Warga Bontang ini awalnya mengira judul “Pesta Babi” berkaitan dengan tradisi adat atau ritual persembahan di Papua. Namun, ia justru mendapati potret pilu yang kontras.
“Setelah menonton, rasanya mengerikan. Secara kasat mata seperti ada penjajahan gaya baru. Secara tidak langsung, kita di sini juga jadi korban, walau sebagai masyarakat awam saya tidak paham politik,” akunya.
Salah satu penonton lainnya Frejiae menilai “Pesta Babi” melengkapi trilogi sinema kritis WatchDoc setelah Sexy Killers (2019) dan Dirty Vote (2024).
“Film ini adalah edukasi nyata bahwa kondisi Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Ini ajakan untuk peduli pada sesama warga negara,” tegasnya.
Ketua FJB, Herdi Jafar, menegaskan bahwa film investigasi seperti Pesta Babi bukan sekadar tontonan visual biasa. Film ini adalah representasi dari kerja jurnalistik tingkat tinggi yang menuntut ketekunan, validasi data, biaya besar, sekaligus risiko yang tinggi.
Bagi Herdi, diskusi pasca-pemutaran film merupakan ruang belajar bersama untuk melihat fakta secara lebih jernih, kritis, dan manusiawi.
“Kami berharap film ini memantik jurnalis di Bontang untuk menghasilkan produk jurnalistik yang lebih tajam dan kritis. Pers yang sehat bukan yang selalu cari aman, melainkan yang berani mengajukan pertanyaan sulit, membuka ruang diskusi, dan menyuarakan perspektif yang selama ini diabaikan,” pungkas Herdi.
Merawat Dialektika dan Nalar Kritis Anak Muda
Keberhasilan acara yang dihadiri juga oleh Dosen Universitas Mulawarman (Unmul) Sri Murlianti dan Ketua KNPI Indra Wijaya ini memicu optimisme baru. Co-Founder Lentera Muda Nusantara Bontang, Indra Ali Ahmad, menyatakan komitmennya untuk menggelar acara serupa secara konsisten di masa mendatang.
Menurut Indra, ruang dialektika dan ruang tukar gagasan seperti ini sudah sepatutnya dirawat agar nalar kritis masyarakat khususnya generasi muda tidak tumpul dalam mengawal berbagai isu lokal maupun nasional.
“Terima kasih untuk kawan-kawan Lentera Muda, FJB, dan khususnya warga Bontang yang tetap bertahan hingga akhir film meski di bawah guyuran hujan deras. Kami berkomitmen ruang-ruang kritis seperti ini tidak boleh berhenti di sini,” tutup Indra.















