Inspirasa.co – Pemkot Bontang membidik alokasi dana darurat yakni Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk mempercepat pemulihan pasca-jebolnya tanggul di Kampung Timur RT 01, Kelurahan Kanaan, kawasan bekas galian C ilegal.
Kendati demikian, Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni menegaskan bahwa pencairan dana Belanja Tidak Terduga (BTT) tersebut masih harus melewati audit ketat demi menghindari pelanggaran hukum.
Neni menginstruksikan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait untuk mengkaji peluang pemanfaatan dana darurat. Namun, ia mengakui ada sekat administratif dan hukum yang cukup ketat dalam mencairkan anggaran tersebut.
“Saya sudah sampaikan, kalau bisa gunakan dana tak terduga (BTT). Tapi ada mekanismenya, dana itu tidak serta-merta bisa langsung dipergunakan,” ujar Neni, Jumat (29/5/2026).
Pemerintah saat ini tengah mendalami penyebab pasti longsor. Pasalnya, status penyebab ini akan menentukan jenis anggaran yang boleh digunakan.
Dikatakan jika bencana alam murni, bisa langsung diintervensi menggunakan dana BTT.
Ada pun, jika faktor aktivitas manusia, memiliki mekanisme anggaran yang berbeda dan tidak bisa asal klaim sebagai dana darurat.
“Biasanya yang bisa menggunakan BTT adalah bencana yang murni disebabkan oleh alam. Berbeda ceritanya kalau kerusakan itu terjadi karena ulah manusia,” jelasnya.
Jika hasil kajian OPD menyimpulkan dana BTT tidak bisa menyentuh proyek Kanaan, Pemkot Bontang sudah menyiapkan rencana cadangan (Plan B). Pemerintah akan menempuh jalur pergeseran anggaran atau memasukkannya ke dalam Perubahan APBD.
“Kalau tidak bisa pakai BTT, insyaallah akan kami layangkan lewat pergeseran atau perubahan anggaran. Yang jelas, semua harus berjalan di atas koridor aturan,” tegas Neni.
Di sisi lain, Neni menyayangkan masih rendahnya kesadaran sebagian warga terkait potensi bahaya di zona merah. Ia kembali mengingatkan masyarakat yang bermukim di area rawan untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat intensitas hujan meninggi.
“Saya tidak bosan-bosan mengimbau. Tapi ya itulah perilaku manusia, kadang imbauan (keselamatan) tidak selalu dipatuhi,” pungkasnya.
Sebelumnua hujan deras yang mengguyur pada Kamis (28/5/2026) memicu jebolnya tanggul di kawasan tersebut.
Selain memicu longsor, insiden ini sempat memutus pasokan air bersih warga, meski saat ini distribusinya mulai dialirkan kembali secara bertahap. (Ima)















