Inspirasa.co – Pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) jenjang SD dan SMP yang akan dimulai pada 13 Juli mendatang diharapkan tidak sekadar menjadi agenda penyambutan peserta didik baru. Sekretaris Komisi A DPRD Bontang, Saeful Rizal, meminta seluruh sekolah menjadikan MPLS sebagai ruang adaptasi yang aman, nyaman, dan membangun karakter siswa sejak hari pertama masuk sekolah.
Menurutnya, konsep MPLS yang telah disusun pemerintah sebenarnya sudah cukup baik. Namun, pelaksanaannya di lapangan harus benar-benar dikawal agar tujuan utama kegiatan tersebut tercapai, yakni membantu peserta didik mengenal lingkungan sekolah tanpa tekanan maupun rasa takut.
“Saya sudah melihat dan mempelajari berulang-ulang bagan MPLS. Saya melihat sudah cukup bagus. Tinggal bagaimana meningkatkan kebermanfaatannya bagi semua pihak,” ujarnya saat menghadiri rapat paripurna dalam rangka pengambilan keputusan terhadap Raperda P2APBD tahun anggaran 2025, Jumat (3/7/2026) di Auditorium Tiga Dimensi.
Saeful mengatakan, salah satu aspek yang perlu menjadi perhatian adalah pembentukan karakter melalui penguatan spiritual seluruh warga sekolah. Menurutnya, kondisi spiritual yang baik akan melahirkan suasana belajar yang sehat, sehingga hubungan antara guru, siswa, kepala sekolah, tenaga kependidikan, hingga orang tua dapat terjalin lebih harmonis.
Selain itu, sekolah diminta menciptakan lingkungan yang benar-benar kondusif selama pelaksanaan MPLS. Ia mengingatkan agar tidak ada praktik perundungan dalam bentuk apa pun, baik secara verbal maupun fisik.
Menurutnya, masih banyak kasus bullying di lingkungan pendidikan yang berdampak pada kondisi psikologis anak. Karena itu, momentum MPLS harus dimanfaatkan untuk membangun budaya saling menghargai sejak awal siswa memasuki lingkungan sekolah.
“Jangan sampai ada bully-membully, jangan sampai ada ejek-mengejek, apalagi tindakan fisik. Anak-anak harus merasa aman sejak pertama kali masuk sekolah,” tegasnya.
Saeful menilai, rasa aman merupakan syarat utama agar peserta didik mampu beradaptasi dengan lingkungan baru. Jika sejak awal siswa merasa nyaman, maka proses belajar berikutnya akan berlangsung lebih optimal.
Ia berharap seluruh kepala sekolah dan guru mampu menghadirkan suasana yang ramah anak. MPLS, menurutnya, harus menjadi pengalaman pertama yang menyenangkan sehingga siswa memiliki kesan positif terhadap sekolah.
Lebih jauh, ia juga meminta sekolah menghapus stigma bahwa MPLS identik dengan kegiatan yang menakutkan. Menurutnya, kegiatan tersebut harus dikemas secara kreatif, edukatif, dan menyenangkan agar mampu membangun kepercayaan diri peserta didik.
“Jangan sampai muncul lagi anggapan bahwa MPLS itu seperti ospek atau perpeloncoan yang membuat anak-anak trauma dan orang tua merasa anaknya tidak aman. Buatlah kegiatan yang enjoy, nyaman, fun, dan menyegarkan sehingga anak-anak merasa berkesan sejak hari pertama sekolah,” pungkasnya.

















