Samarinda — DPRD Kota Samarinda menilai keterbatasan anggaran masih menjadi kendala utama dalam upaya mengembangkan sektor pariwisata secara lebih kompetitif.
Kondisi tersebut dinilai membuat program pengembangan destinasi belum mampu berkembang secara optimal dan masih didominasi kegiatan rutin, sehingga belum menghasilkan objek wisata baru yang mampu meningkatkan daya tarik daerah.
Anggota Komisi II DPRD Samarinda, Rusdi Doviyanto, mengatakan besarnya potensi pariwisata Kota Samarinda harus diimbangi dengan dukungan anggaran yang memadai agar pemerintah memiliki ruang untuk melakukan inovasi dalam pengembangan destinasi maupun promosi wisata.
Menurutnya, tanpa keberpihakan anggaran yang cukup, sektor pariwisata akan sulit berkembang menjadi salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang berkelanjutan.
“Kalau ingin pariwisata berkembang dan memberikan kontribusi terhadap PAD, tentu harus didukung anggaran yang memadai. Selama ini program yang dijalankan masih didominasi kegiatan rutin sehingga ruang untuk menciptakan destinasi baru menjadi sangat terbatas,” ujar Rusdi, Jumat (3/7/26).
Ia menilai Samarinda memang tidak memiliki keunggulan wisata alam sebanyak sejumlah daerah lain di Kalimantan Timur. Karena itu, strategi pengembangan pariwisata harus diarahkan pada penguatan potensi lokal yang mampu menjadi identitas khas Kota Tepian.
Rusdi mengapresiasi kehadiran Teras Samarinda yang berhasil menjadi salah satu ikon wisata baru. Namun, menurutnya, keberadaan satu destinasi saja belum cukup untuk meningkatkan kunjungan wisatawan dalam jangka panjang.
Pemerintah Kota, kata dia, perlu menghadirkan lebih banyak pilihan destinasi agar wisatawan memiliki alasan untuk tinggal lebih lama di Samarinda dan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
“Jangan sampai orang datang ke Samarinda hanya mengunjungi Teras Samarinda, kemudian pulang. Kita harus menghadirkan lebih banyak destinasi agar wisatawan memiliki banyak pilihan,” katanya.
Lebih lanjut, Rusdi mendorong pengembangan pariwisata berbasis seni, budaya, dan kearifan lokal sebagai salah satu strategi memperkuat daya saing daerah. Menurutnya, potensi budaya yang dimiliki Samarinda dapat menjadi pembeda dibanding daerah lain sekaligus mengurangi ketergantungan pada wisata kuliner yang mulai menghadapi persaingan ketat.
Salah satu potensi yang dinilai layak dikembangkan lebih serius adalah Desa Budaya Pampang. Rusdi menilai kawasan tersebut memiliki nilai budaya yang kuat dan berpotensi menjadi destinasi unggulan apabila didukung pengelolaan yang lebih profesional.
Ia mencontohkan sejumlah daerah seperti Yogyakarta dan Bali yang berhasil menjadikan budaya sebagai daya tarik utama sektor pariwisata. Karena itu, pertunjukan budaya di Pampang diharapkan dapat dikembangkan dengan jadwal yang lebih fleksibel sehingga wisatawan tidak hanya bergantung pada agenda pertunjukan tertentu.
Selain pengembangan atraksi wisata, Rusdi juga meminta pemerintah memperjelas arah pengelolaan Desa Budaya Pampang, termasuk menentukan apakah pengelolaannya tetap dilakukan oleh masyarakat adat atau membuka peluang kerja sama dengan pihak ketiga maupun investor.
Menurutnya, kepastian model pengelolaan akan memudahkan pemerintah dalam menentukan bentuk dukungan yang diperlukan, baik berupa pembangunan infrastruktur, promosi wisata, maupun peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
“Kepastian pola pengelolaan sangat penting agar pemerintah dapat menentukan dukungan yang tepat, apakah fokus pada infrastruktur, promosi, atau penguatan kapasitas masyarakat lokal,” tegasnya.
Rusdi berharap sektor pariwisata ke depan tidak hanya menjadi pelengkap pembangunan daerah, tetapi mampu tumbuh sebagai salah satu penggerak ekonomi baru melalui pengembangan destinasi yang inovatif, berbasis budaya lokal, serta didukung kebijakan dan anggaran yang lebih proporsional.(adv)

















