Inspirasa.co – Rencana Pemerintah Kota Bontang membangun pelabuhan peti kemas di kawasan Bontang Lestari mendapat dukungan penuh dari DPRD Kota Bontang. Ketua Komisi C DPRD Bontang Alfin Rausan Fikry menilai proyek strategis tersebut berpotensi menjadi penggerak ekonomi baru sekaligus membuka peluang investasi yang lebih luas bagi daerah.
Menurutnya, secara geografis Bontang memiliki posisi yang sangat mendukung untuk pengembangan pelabuhan peti kemas. Selain dikenal sebagai kota industri, Bontang juga memiliki karakter wilayah maritim yang dinilai menjadi keuntungan besar dalam pengembangan sektor logistik dan perdagangan.
“Kalau saya sangat mendukung sekali. Kita punya latar geografis yang sangat mendukung dan Bontang merupakan kota maritim. Ini menjadi anugerah besar yang harus dimanfaatkan dengan baik,” ujar Alfin Rausan Fikry.
Ia menjelaskan, keberadaan pelabuhan peti kemas nantinya diyakini mampu meningkatkan pendapatan daerah serta menciptakan denyut ekonomi baru di Kota Taman. Dampaknya tidak hanya dirasakan sektor industri besar, tetapi juga masyarakat kecil dan pelaku UMKM.
Menurut Alfin, aktivitas pelabuhan akan membuka banyak peluang usaha baru mulai dari jasa transportasi, logistik, perdagangan, hingga pertumbuhan usaha mikro kecil dan menengah. Selain itu, kawasan Bontang Lestari diprediksi berkembang menjadi pusat permukiman baru seiring meningkatnya aktivitas ekonomi.
“Kalau pelabuhan itu jadi, tentu bisa membawa pendapatan daerah yang lebih besar. Kemudian menjadi denyut perekonomian baru. Pertumbuhan ekonomi juga pasti naik karena banyak sektor yang bergerak, mulai jasa, sopir, UMKM, hingga potensi permukiman baru,” katanya.
Terkait pemindahan rencana pembangunan pelabuhan dari Loktuan ke Bontang Lestari, Alfin menilai langkah tersebut cukup ideal. Pasalnya, kawasan Loktuan saat ini dinilai sudah terlalu padat dan memiliki risiko tinggi apabila aktivitas kendaraan besar terus meningkat.
Ia menyoroti kondisi lalu lintas di kawasan tersebut yang sudah cukup crowded, ditambah padatnya permukiman warga. Jika pelabuhan peti kemas tetap dipaksakan di Loktuan, dikhawatirkan akan memunculkan persoalan baru, terutama terkait keselamatan dan dampak lingkungan.
“Kalau di Loktuan sekarang sudah sangat padat. Permukiman juga ramai. Kalau kendaraan besar lalu-lalang dan parkir peti kemas di sana tentu risikonya tinggi untuk masyarakat,” jelasnya.
Sebaliknya, kawasan Bontang Lestari dinilai masih memiliki ruang pengembangan yang luas sehingga pemerintah dapat lebih leluasa melakukan mitigasi dampak serta penataan kawasan sejak awal.
“Di Bontang Lestari masih banyak lahan kosong. Jadi kita masih bisa membuat kajian baru dan meminimalisir risiko-risiko yang mungkin timbul,” pungkasnya. (BJS)

















