Samarinda – Fenomena perebutan “sekolah favorit” masih mewarnai pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di Kota Samarinda setiap tahunnya. Kondisi ini memicu ketimpangan, di mana sejumlah sekolah negeri mengalami kelebihan pendaftar, sementara sekolah lain justru kekurangan siswa.
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti, menilai persoalan tersebut bukan disebabkan kurangnya keterbukaan informasi dari pemerintah kota.
Ia menyebut, data terkait daya tampung, jumlah rombongan belajar (rombel), hingga sistem zonasi atau rayonisasi sudah disampaikan secara terbuka sebelum proses pendaftaran dimulai.
“Informasi kuota dan rayonisasi sebenarnya sudah dibuka. Persoalannya, masyarakat masih menumpuk di sekolah yang dianggap favorit,” ungkap Sri Puji, Minggu (21/6/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut lebih dipengaruhi pola pikir dan preferensi orang tua yang masih berorientasi pada label sekolah tertentu, meski peluang diterima di sekolah tersebut tidak selalu besar.
Akibatnya, terjadi penumpukan berkas pendaftaran di sekolah-sekolah tertentu, sementara sekolah lain yang masih memiliki kapasitas justru kurang diminati.
Sri Puji menilai, ketimpangan ini perlu menjadi perhatian bersama agar pemerataan kualitas pendidikan dapat berjalan lebih baik, sehingga tidak lagi terjadi pengelompokan sekolah berdasarkan stigma “favorit” dan “non-favorit”.
“Sistem zonasi sejatinya dirancang untuk menciptakan distribusi siswa yang lebih seimbang, namun implementasinya masih menghadapi tantangan di tingkat persepsi masyarakat,” pungkasnya.(Adv)
















