Inspirasa.co – Persoalan sampah di Jalan Kerapu 3, Kelurahan Tanjung Laut Indah kawasan pesisir, seolah tak kunjung terselesaikan. Meski aksi pembersihan berkali-kali dilakukan, tumpukan sampah kembali mengepung wilayah tersebut.
Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, menyoroti efektivitas penanganan yang selama ini dinilai hanya menyentuh permukaan.
Agus Haris mengakui bahwa karakteristik wilayah pesisir menjadi tantangan utama. Fenomena pasang surut air laut bertindak sebagai “kurir” yang terus-menerus mengirimkan sampah kembali ke daratan.
Hal inilah yang membuat upaya pembersihan sampah selama ini terkesan sia-sia dan tidak memberikan dampak jangka panjang.
“Ini wilayah pesisir. Saat air pasang, sampah terbawa ke darat. Kita tidak bisa terus menggunakan cara lama; perlu solusi yang lebih permanen,” tegas Agus Haris di sela kunjungannya ke rumah warga.
Jaring Penahan Dianggap Jadi Solusi
Sebagai langkah konkret, Agus Haris mengusulkan pemasangan jaring penahan sampah di titik-titik strategis. Logikanya sederhana, menyaring sampah sebelum sempat menyusup ke area permukiman. Namun, usulan ini sebenarnya bukan barang baru. Pertanyaannya, mengapa hingga kini realisasinya masih berkutat di level administratif.
Kondisi Terkini di Lapangan:
Status Proyek: Masih dalam tahap penganggaran di tingkat Kelurahan Tanjung Laut Indah.
Urgensi: Volume sampah terus berulang dan mulai mengancam kesehatan serta estetika lingkungan pesisir.
Fokus Awal: Kunjungan ini sebenarnya meninjau masalah distribusi air PDAM, namun potret kumuh akibat sampah tak lagi bisa dikesampingkan.
Meskipun anggaran sedang diproses, masyarakat pesisir membutuhkan kepastian—bukan sekadar instruksi yang mengendap di atas kertas. Efektivitas jaring penahan ini nantinya akan menjadi ujian bagi pemerintah setempat: apakah mampu memutus rantai kiriman sampah, atau justru hanya akan menjadi pajangan baru yang tertutup limbah.

















Discussion about this post