Inspirasa.co – Merespons keluhan warga terkait lonjakan tagihan air yang dianggap tak masuk akal, Direktur Utama PDAM Kota Bontang, Suramin, akhirnya buka suara. Ia menegaskan bahwa kenaikan tarif sebenarnya tidak “mencekik” seperti anggapan publik, melainkan dipicu oleh pola konsumsi pelanggan itu sendiri.
Bukan Tarif yang Berlipat Ganda
Suramin mengklarifikasi bahwa kenaikan tarif resmi hanya berada di kisaran 23 hingga 25 persen. Jika tagihan pelanggan membengkak hingga berkali-kali lipat, hal itu disebabkan oleh sistem tarif progresif.
“Semakin tinggi pemakaian air, maka tarif per meter kubik akan meningkat. Jika pemakaian di atas 30 meter kubik, otomatis masuk kategori usaha. Itulah mengapa tagihan terasa melonjak tajam,” jelas Suramin.
Solusi Satu Rumah Satu Meter
Hasil evaluasi PDAM mengungkap temuan menarik: mayoritas lonjakan terjadi pada rumah yang menggunakan satu meteran untuk bersama (beberapa kepala keluarga). Kondisi ini menyebabkan volume air cepat menembus batas tarif progresif tertinggi.
Sebagai solusi, PDAM menawarkan program Sambungan Rumah Mandiri. Dengan satu meteran per rumah, pemakaian air lebih terkontrol dan tagihan diprediksi bisa ditekan hingga di bawah Rp100.000 per bulan.
Skema Cicilan Pemasangan Baru
Total Biaya: Sekitar Rp2,3 Juta.
Uang Muka (DP): Rp500 Ribu.
Tenor: Pelunasan dapat dicicil hingga akhir tahun.
Wawali Sebut Jangan Salah Persepsi
Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, turut pasang badan meluruskan polemik ini. Menurutnya, pemakaian normal satu rumah tangga dengan empat anggota keluarga rata-rata hanya mencapai 20-25 kubik per bulan.
“Kalau tagihan sudah ratusan kubik, itu jelas bukan penggunaan rumah tangga biasa. Bisa jadi ada aktivitas usaha atau dipakai ramai-ramai. Inilah yang harus diluruskan agar masyarakat tidak salah persepsi terhadap kebijakan tarif,” tegas Agus.
Ia mendorong warga yang masih menumpang meteran untuk segera beralih ke sambungan mandiri. Selain lebih adil dalam pembayaran, hal ini merupakan bagian dari program nasional untuk standarisasi layanan air bersih.
“Daripada bayar Rp200 ribu lebih tiap bulan karena akumulasi, lebih baik pasang sendiri. Selisihnya bisa ditabung, dan warga lebih leluasa mengelola air mereka,” pungkasnya.
Penulis: Ima
Editor: Aris

















Discussion about this post