Inspirasa.co – PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) raih penghargaan Best Circular Economy & Sustainable Manufacturing Paper, pada Conference of the ASEAN Federation of Engineering Organisations (CAFEO) 44, atas transformasi pengelolaan sampah di lingkungan perusahaan melalui program EcoMove.
Program ini merupakan inovasi pengelolaan sampah secara terintegrasi, sekaligus upaya perusahaan mendukung target Zero Waste 2030. EcoMove menitikberatkan pendekatan PKT dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang tidak hanya bertumpu pada ketersediaan fasilitas, tapi juga mengintegrasikan komitmen manajemen, pembagian peran, keterlibatan karyawan, hingga pemantauan kinerja secara berkelanjutan.
VP Lingkungan Hidup PKT, Isna Nurul Dukha, menjelaskan EcoMove merupakan transformasi dari program PKT Bersih, yang dikembangkan untuk memperkuat budaya pengelolaan sampah di lingkungan perusahaan. Program ini dilatarbelakangi kebutuhan untuk mengurangi timbulan sampah dari sumbernya, seiring meningkatnya tantangan pengelolaan sampah dan keterbatasan kapasitas tempat pemrosesan akhir (TPA).
“EcoMove dikembangkan dengan pemahaman, bahwa pengelolaan sampah tidak cukup hanya mengandalkan fasilitas dan petugas kebersihan. Diperlukan tata kelola yang jelas serta keterlibatan aktif seluruh insan perusahaan, agar pemilahan dan pengelolaan sampah menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari,” ungkap Isna, Senin (2/11/2026).
Pada implementasinya, EcoMove menerapkan pemilahan sampah dalam tiga kategori, yakni sampah organik sisa makanan, sampah laku jual, dan sampah residu. Sampah organik diolah melalui pengomposan, sedangkan sampah yang memiliki nilai ekonomi disalurkan melalui Bank Sampah Anggrek Hitam yang dikembangkan PKT.
Sementara sampah residu yang belum dapat dimanfaatkan melalui jalur pengelolaan, akan dikirim ke TPA Bontang Lestari. Program ini pun diperkuat tata kelola yang melibatkan Direksi, Kepala Unit Kerja, Environmental Agent (EA), Cleaning Service (CS), hingga seluruh karyawan.
Setiap unsur memiliki peran dalam memastikan pengelolaan sampah berjalan konsisten. Mulai dari penetapan arah dan kebijakan, sosialisasi, pemilahan dari sumber, pengumpulan, hingga penyaluran sampah sesuai jalur pengelolaannya.
“Kami juga turut memberi pendampingan kepada EA dan CS sebelum implementasi, hingga monitoring berkala untuk mengevaluasi perkembangan program sekaligus mengidentifikasi kendala di masing-masing unit kerja,” lanjut Isna.
Edukasi juga dilakukan secara rutin melalui berbagai materi komunikasi, guna menjaga kesadaran dan konsistensi perilaku karyawan. Kata Isna, pendekatan tersebut menjadi salah satu aspek penting yang menunjukkan perubahan kinerja pengelolaan sampah perlu integrasi antara kebijakan, pelaksanaan operasional, partisipasi sumber daya manusia, hingga evaluasi yang berkesinambungan.
“Kami juga mendorong munculnya inisiatif dari setiap unit kerja, agar implementasinya terus berkembang sesuai kebutuhan dan karakteristik masing-masing,” kata Isna.
Hingga Agustus 2026, implementasi EcoMove berhasil menurunkan volume sampah yang dikirim ke TPA sebesar 55,63 persen, dibanding kondisi sebelum program diterapkan. Capaian ini menunjukkan pemilahan dari sumber hingga optimalisasi jalur pengolahan dan pemulihan sampah, dapat menghasilkan dampak nyata dalam mengurangi beban pembuangan akhir.
“Dengan capaian yang terukur dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, PKT terus melangkah menuju target Zero Waste 2030 sebagai bagian dari upaya mewujudkan industri yang lebih bersih dan berkelanjutan,” tambah Isna.
Direktur Utama PKT, Rafli Yandra, mengapresiasi capaian EcoMove sebagai bentuk komitmen bersama dalam memperkuat praktik keberlanjutan di lingkungan perusahaan. Menurutnya, PKT mengembangkan inovasi lingkungan yang berangkat dari kebutuhan nyata, serta dijalankan melalui keterlibatan seluruh insan perusahaan.
“Kami percaya, keberlanjutan harus diwujudkan melalui langkah konkret. EcoMove salah satu bentuk komitmen kami untuk memastikan operasional perusahaan tidak hanya berorientasi pada kinerja bisnis, tapi juga berkontribusi positif bagi lingkungan,” ujar Rafli.
Ia menegaskan, PKT akan terus memperkuat inisiatif pengelolaan lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab perusahaan menjalankan industri yang berkelanjutan. Mulai peningkatan efisiensi sumber daya, pengurangan timbulan sampah, penguatan ekonomi sirkular, serta sistem pengelolaan lingkungan yang terukur dan berkesinambungan.
“Sejalan dengan itu, implementasi EcoMove juga akan diperluas ke perumahan karyawan hingga pihak eksternal, seperti kontraktor dan vendor yang beraktivitas di lingkungan PKT,” ucap Rafli.
Perluasan ke pihak eksternal didorong melalui integrasi persyaratan EcoMove dalam proses bisnis vendor, sehingga prinsip pengelolaan sampah dapat diterapkan lebih luas dalam ekosistem operasional perusahaan. Selanjutnya, PKT juga merencanakan pengembangan fasilitas pengolahan sampah organik berbasis Black Soldier Fly (BSF), serta persiapan pembangunan unit pengolahan residu.
“Target Zero Waste 2030 butuh langkah terencana dan kolaborasi yang kuat. Untuk itu, EcoMove akan terus dikembangkan melalui penguatan sistem dan perluasan partisipasi, agar setiap langkah yang dilakukan memberi dampak nyata berkelanjutan,” pungkas Rafli.(*)















