Inspirasa.co – Lonjakan tagihan PDAM yang selama ini dikeluhkan warga akhirnya terkuak. Bukan sekadar masalah teknis di penyedia layanan, melainkan akibat praktik satu pipa untuk semua yang justru menjadi bumerang finansial bagi pelanggan.
Dalam inspeksi mendadak (sidak) yang digelar Pemerintah Kota Bontang, ditemukan fakta mencengangkan, satu sambungan air dipaksa melayani hingga empat kepala keluarga atau lebih.
Praktik ini jamak ditemukan di area rumah kontrakan, di mana pemilik bangunan enggan menyediakan akses air yang mandiri bagi setiap penyewa.
Alih-alih menghemat biaya administrasi, penggunaan satu meteran untuk banyak rumah justru memicu lonjakan tarif ke level tertinggi. Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, menegaskan bahwa akumulasi pemakaian ini adalah pemicu utama tagihan meledak.
“Kalau satu meter dipakai banyak rumah, pemakaian bisa tembus 100 kubik. Ini yang membuat tagihan melonjak” ujar Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris.
Padahal, jika digunakan secara normal oleh satu keluarga, pemakaian air rata-rata hanya berkisar 20 hingga 25 meter kubik per bulan. Kondisi ini membuat pelanggan justru membayar lebih mahal dibandingkan jika setiap rumah memiliki sambungan sendiri.
Pemerintah menggarisbawahi bahwa sistem sambungan bersama ini adalah bentuk kerugian finansial yang nyata. Warga, terutama pemilik usaha kontrakan, diminta untuk tidak lagi menggunakan sistem satu aliran air jika tidak ingin tercekik tagihan bulanan. (Ima)
















Discussion about this post